Nonosoft KHOT 3

Software Editor Teks Arab

Keutamaan Al-Qur’an

Keutamaan Al-QuranAllah ta’ala telah memuliakan Ahlul Qur ’an baik pembaca, penghafal ataupun pengamalnya dengan keistimewaan yang banyak sekali, di dunia dan akhirat. Rasulullah telah memberikan spesifikasi khusus bagi para pengemban al-Qur’an dalam sabda beliau,

“Ahlul Qur’an adalah Ahlullah (yang dekat kepada Allah) dan orang-orang khusus (pilihan)-Nya. ” (HR. An-Nasa’i & Ibnu Majah)

Ahlul Qur ‘an adalah orang-orang yang dekat kepada Allah ta’ala karena demikian agung kedudukan mereka. Betapa tidak, bukankah mereka itu mempelajari seagung-agung dan setinggi-tinggi ilmu serta semulia-mulia kedudukan di dalam Islam? Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat mengenai, mana yang lebih utama antara membaca atau menghafal? Di antara mereka ada yang menguatkan bahwa membaca lebih utama dan sebagian lagi ada yang lebih menguatkan bahwa menghafallah yang lebih utama. Masing-masing dari kedua pihak tersebut mengemukakan alasan-alasan bagi pendapat mereka dan kondisi-kondisi tertentu di dalam menentukan mana yang lebih utama tersebut.

Para shahabat, demikian antusias membaca Al-Qur’an dan menghafalnya. Sementara itu, Rasulullah juga membanding-bandingkan keutamaan masing-masing para shahabatnya di dalam menghafal Al-Qur’an.

Sebagaimana hadits yang shahih dari Abi Mas’ud Al-Anshari Al-Badri, yang meriwayatkan dari Rasulullah bahwasanya beliau bersabda,

“Yang (berhak) mengimami suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaannya terhadap Kitabullah di antara mereka.”

Dan dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Nabi pernah mengumpulkan antara dua orang laki-laki yang gugur sebagai syuhada Uhud, kemudian beliau bersabda,

“Siapa di antara mereka berdua yang lebih banyak hafalan Al-Qur ‘annya?” Lalu, bila telah ditunjukkan kepada beliau salah seorang di antara keduanya, maka beliau mendahulukannya untuk dikuburkan di Lahd.” (HR. Bukhari)

Demikian pula, Rasulullah telah mengawinkan seorang wanita dengan salah seorang dari para shahabatnya dan menjadikan maharnya adalah Al-Qur’an yang dihafalnya. Rasulullah juga menyerahkan panji jihad kepada orang yang paling banyak hafalannya di kalangan para shahabatnya.

Dari Ibnu ‘Umar, yang meriwayatkan dari Nabi Muhammad bahwasanya beliau bersabda,

“Tidak berlaku kedengkian kecuali terhadap dua orang: seseorang yang dianugerahi Allah Al-Qur an lantas dia mengamalkannya sepanjang malam dan sepanjang siang; dan seseorang yang dianugerahi Allah harta lantas menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang.”

Diriwayatkan di dalam Khabar (hadits) bahwa bilangan tangga-tangga surga itu terdiri dari bilangan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu dikatakan kepada pembacanya pada hari Kiamat, “Bacalah, lalu naiklah.” Jika dia hafal setengah Al-Qur’an, maka dikatakan kepadanya, “Andaikata engkau masih memiliki tambahan hafalan yang lain, niscaya kami akan menambahkan bagimu pula (tingkatan tangganya -penj.).”

Khabar ini sesuai sekali dengan hadits yang berasal dari Nabi Muhammad bahwasanya beliau bersabda,

“Dikatakan kepada pemilik Al-Qur’an (penghafalnya): Bacalah, lalu naiklah, lalu bacalah lagi (secara tartil) sebagaimana dulu kamu membaca (secara tartil) di dunia, sebab kedudukanmu adalah berada pada akhir ayat yang kamu baca.”

Pahala yang diraih adalah berdasarkan tingkat kesulitannya sebab manusia berbeda di dalam kemampuan memperbagusi dan menekuni. Sebagaimana terdapat hadits dari Rasulullah bahwasanya beliau bersabda,

“Orang yang membaca Al-Qur ’an sementara dia mahir, maka dia bersama para malaikat para penulis, yang mulia lagi berbakti dan orang yang membaca Al-Qur’an dan terbata-bata membacanya sementara hal itu sulit baginya, maka dia mendapatkan dua pahala.”

Sedangkan mengenai majlis-majlis Al-Qur’an dan keutamaannya, maka terdapat hadits yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad bahwasanya beliau bersabda,

“Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah-rumah Allah dan saling mengkajinya di antara mereka melainkan ketenangan turun kepada mereka, rahmat menyelimuti mereka dan para malaikat mengelilingi mereka serta Allah telah menyebut mereka kepada malaikat yang berada di sisi-Nya.”

Sebaik-baik manusia adalah orang yang mengaktifkan dirinya dengan Kitabullah dan menjauhi hal-hal yang dapat melalaikannya dari mengingat akhirat. Bilamana dia telah mencapai kepada tingkatan yang diharapkan, maka hendaknya dia mengamalkannya dan memberikan hal yang bermanfa’at kepada orang lain.

Hal ini sebagaimana hadits dari Utsman bin Affan, bahwasanya dia berkata, Rasulullah  bersabda,

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Qur ‘an dan mengamalkannya.”

Nafi’ bin Al-Harits mengangkat Abdurrahman bin    Abza Al-Khuza’i sebagai wakil    atas pemerin tahan    di Mekkah    tatkala dia ingin pergi menemui Umar bin Al-Khaththab ke kawasan ‘Usfan. Lalu Umar berkata kepadanya, “Siapa yang engkau angkat sebagai pengganti sementaramu terhadap penduduk Al-Wady (Mekkah)?”
Dia menjawab, “Ibnu Abza.”
Dia bertanya lagi, “Siapa Ibnu Abza itu?”
Dia menjawab, “Dia seorang‘alimilmu Fara’idh dan qari’ Kitabullah.”
Dia berkata, “Benar, bukankah Nabi kalian telah bersabda,

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah mengangkat banyak kaum melalui Al-Qur’an dan juga merendahkan yang lain melaluinya pula.”

Demikian juga diriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab bahwasannya dia berkata, “Ibnu Abza adalah orang yang telah diangkat (derajatnya) oleh Allah dengan Al-Qur’an.”

Share Button

Comments

comments